Lebih Dari Sekadar Konflik
Dari hari ke hari, berita dari Gaza dan Tepi Barat terus membanjiri media sosial kita. Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri: "Sebenarnya, mengapa kita harus membela Palestina? Apa yang membuat konflik yang jauh di sana menjadi tanggung jawab moral kita di sini?". Ini untuk mengingatkan kita dengan alasan-alasan yang seringkali terabaikan, mengapa suara kita untuk Palestina tetap penting.
Bayangkan jika suatu hari, tanpa alasan yang sah, rumah yang diwariskan turun-temurun pada Anda diduduki paksa oleh orang asing. Anda diusir, keluarga Anda tercerai-berai, dan Anda hidup dalam ketakutan setiap detiknya. Itulah realitas harian yang dialami rakyat Palestina selama beberapa dekade. Sebagai sesama manusia, nurani kitalah yang pertama kali harus berteriak melihat ketidakadilan ini, terlepas dari perbedaan agama, suku, atau bangsa.
Banyak yang mengira ini adalah konflik "rumit" antara dua pihak yang setara. Faktanya, menurut hukum internasional, situasinya jelas: Israel adalah occupying power (kekuatan pendudukan) dan Palestina adalah occupied territory (wilayah yang diduduki). Pendudukan ini telah dinyatakan ilegal secara tegas dalam Opini Advisory International Court of Justice (ICJ) atau Mahkamah Internasional (No. 2024/57), yang menyimpulkan bahwa kebijakan dan praktik Israel di wilayah Palestina yang diduduki, adalah melanggar hukum internasional, puluhan Resolusi PBB, Konvensi Jenewa tentang perlindungan warga sipil, dan prinsip-prinsip dasar HAM. Membela Palestina berarti membela tegaknya hukum dan keadilan internasional.
Apa yang terjadi di Palestina bukan sekadar sengketa tanah, tetapi pola modern dari kolonialisme pemukim (settler colonialism). Rakyat pribumi Palestina secara sistematis diusir dari tanahnya dan digantikan oleh pemukim asing yang dilindungi oleh militer. Laporan dari organisasi HAM terkemuka seperti Amnesty International dan Human Rights Watch telah secara resmi menilai bahwa Israel menerapkan sistem apartheid terhadap rakyat Palestina. Membela Palestina adalah melanjutkan perjuangan melawan diskriminasi rasial, seperti yang pernah terjadi di Afrika Selatan.
Di tengah blokade, pemboman, dan pengusiran, rakyat Palestina tidak pernah menyerah. Mereka terus mengajar anak-anak mereka di reruntuhan, menanam zaitun di tanah yang hendak dirampas, dan menjaga budaya mereka tetap hidup. Ketahanan (sumud) mereka adalah pelajaran universal tentang martabat dan harga diri. Membela Palestina berarti membela semangat manusia untuk tetap berdiri di atas kebenaran, meski di bawah tekanan yang tak terkira.
Prinsip membela yang tertindas (mustad'afin) adalah nilai universal yang diajarkan oleh semua agama dan filsafat moral. Ketika kita diam melihat ketidakadilan, secara tidak langsung kita memihak pada sang penindas.
Membela Palestina bukan tentang memilih sisi dalam perang agama atau politik. Ini tentang memilih sisi kemanusiaan, keadilan, dan hukum. Sekarang informasi begitu mudah diakses, ketidaktahuan bukan lagi sebuah alasan, melainkan sebuah pilihan. Kekuatan kita ada pada tindakan kecil yang dilakukan konsisten. Mulailah dari hal sederhana, pelajari fakta dan sebarkan, donasi ke lembaga terpercaya serta mulai gerakan BDS (Boycott, Divestment, Sanctions) produk yang mendukung israel. Doa dan dukungan moral juga punya kekuatan besar karena setiap langkah kecil, ketika dilakukan bersama, akan menjadi perubahan besar. Dan di hadapan ketidakadilan, diam adalah sebuah persetujuan.
Komentar
Posting Komentar